Select Menu
Select Menu

Favourite

KABAR CIREBON

INDRAMAYU

MAJALENGKA

CIREBON

KUNINGAN

JABAR

WONG CILIK

Seni Budaya

Kuliner

» » Pengrajin Bordir di Indramayu Maksimalkan Kerja Selama Bulan Ramadhan


Unknown 14.53 0


INDRAMAYU - Sejumlah perajin industri rumahan bordir di Desa Sukawera, Kecamatan Kertasemaya, Kabupaten Indramayu, memaksimalkan curahan kerja selama bulan puasa ini. Pesanan konsumen sampai kebutuhan hidup pekerja bordir membuat intensitas curahan kerja di sentra industri tersebut meningkat selama bulan ramadan.

Rukhayati Hamzah, seorang pemilik modal industri rumahan bordir di Desa Sukawera mengatakan, sebagian besar pekerjanya adalah tenaga kerja lepas. Oleh sebab itu, sebagian besarnya bekerja di rumahnya masing-masing, alih-alih berkonsentrasi di satu tempat layaknya pabrik.

Hal itu juga membawa pengaruh kepada pola pembayaran upah para pekerja lepas yang diukur berdasarkan tingkat produktivitasnya. "Jumlah pekerja kami totalnya ada 15 orang. Mereka semua bekerja di rumah masing-masing. Memang bila puasa tiba, konsumen yang datang ke tempat ini lebih banyak. Jadi, kuantitas bordir yang dihasilkan juga bisa meningkat," ujarnya, Jumat (4/7/2014).

Dia menyebutkan, dalam kondisi normal, setiap pekerja menghasilkan satu buah busana muslim bordir. Sementara dalam situasi jelang lebaran, jumlah yang dihasilkan rata-rata jadi dua pakaian per pekerja. Adapun harga busana bordiran yang dijual rata-rata seharga Rp 100-Rp 700 ribu.

Hamzah mengatakan, kuantitas bordir yang dihasilkan oleh pekerjanya masih tergolong sedikit bila dibandingkan dengan bordiran yang terdapat di Tasikmalaya.

Pasalnya, sebagian besar perajin di Sukawera masih bekerja secara manual. Sementara di Tasikmalaya, sebagian besarnya sudah dibantu oleh permesinan yang otomatis.

"Masih terkendala perkakas sebagian besar perajin di sini. Oleh sebab itu, kami lebih memaksimalkan perkakas yang ada agar kualitas masih bisa tetap dikejar. Dan memang tujuan utama kami adalah meningkatkan kualitasnya agar konsumen masih tetap mendatangi tempat ini," tuturnya.

Pasar busana bordiran dari tempat Hamzah sebagian besarnya masih berasal dari wilayah III Cirebon. Ada juga dari luar pulau Jawa, namun menurut dia, jumlahnya masih lebih sedikit bila dibandingkan dengan konsumen yang berasal dari wilayah III Cirebon.

Sementara itu, pemilik modal industri bordir lainnya, Yuiti mengatakan, salah satu faktor pendongkrak kuantitas bordir yang dihasilkan dari tempatnya adalah karena kebutuhan pekerja itu sendiri yang meningkat menjelang lebaran. Pola kerja di tempat Yuiti sama dengan di tempat Hamzah.

Sebanyak 20 pekerjanya bekerja di rumah masing-masing, dan penghasilan yang didapat akan tergantung kepada produktivitas pekerja itu sendiri. "Para pekerja juga ingin beli bermacam-macam kebutuhan ketika puasa dan menjelang lebaran. Mereka akan meningkatkan curahan kerjanya. Ada yang sampai lembur untuk mendapatkan penghasilan ekstra," ujarnya.

Dia mengatakan, seluruh pekerjanya mengambil pekerjaan membordir sebagai sampingan. Ada di antara pekerjanya yang pada siang hari bekerja di sawah, kemudian malam harinya mengerjakan pesanan bordir.

"Saya memberikan modal berupa benang serta rancangan gambar yang dibuat oleh anak saya. Mereka tinggal mengerjakannya saja dengan mengikuti pola dan peralatan yang sudah disediakan," ujar perempuan yang telah memulai usaha bordir semenjak era 1980 akhir ini. (PRLM)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama