Keraton Kasepuhan Cirebon Gandeng Perpustakaan Nasional Selamatkan Naskah Kuno
Unknown
23.50
0
CIREBON - Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat mengaku dari semua keraton yang ada di Indonesia baru Keraton Kasepuhan yang menggandeng perpustakaan nasional untuk menyelamatkan naskah kuno. Upaya preservasi dan digitalisasi naskah-naskah kuno ini sendiri merupakan tindak lanjut penandatanganan MoU Keraton Kasepuhan dengan Pusat Perpustakaan Nasional.
"MoU dengan Pusat Perpustakaan Nasional ditandatangani 24 Maret lalu," kata Sultan baru-baru ini.
Dijelaskanya, Pusat Perpustakaan Nasional berhasil menyelamatkan sekitar 1.050 lembar naskah kuno. 12 diantaranya naskah kuno koleksi Keraton Kasepuhan Cirebon. Penyelamatan dilakukan dengan preservasi naskah-naskah tersebut selama sepuluh hari oleh tim pusat perpustakaan nasional. Selain menyelamatkan naskah-naskah yang rusak karena termakan usia, tim juga melakukan digitalisasi terhadap 72 naskah kuno lain yang relatif masih utuh.
“MoU yang ditandatangani sendiri meliputi seluruh naskah kuno koleksi Keraton Kasepuhan yang berjumlah sekitar 200 naskah. Kerjasama meliputi pelestarian naskah kuno melalui upaya digitalisasi naskah kuno, mikro film naskah kuno, alih aksara ke huruf latin, penerjemahan, hingga publikasi,” terangnya.
Selama ini naskah-naskah kuno itu, kata Sultan, disimpan dalam sebuah peti, sebelum kini disimpan dalam sebuah lemari kaca. Media penulisan sendiri beragam, mulai dari daun lontar, daun daluang, termasuk kertas Eropa.
“Naskah-naskah kuno berusia ratusan tahun itu, beraksara carakan dan huruf Arab pegon dengan bahasa Cirebon kuno,” katanya.
Menurut dia, isi naskah peninggalan Sunan Gunung Jati dan sultan lain setelahnya, mulai sejarah, baik sejarah Cirebon maupun nasional, tasawuf, fikih, kamus murid, serta ilmu pengobatan dan kecantikan.
Salah satu naskah yang berhasil diselamatkan yakni naskah Sejarah Cirebon yang ditulis sejarawan perempuan abad ke-19, yang juga kerabat Keraton Kasepuhan Raden Ayu Komaraningrat. Sedangkan tiga naskah lagi yang ditulis dengan kertas Eropa dari abad ke-18 harus dibawa ke Jepang jika ingin diselamatkan.
"Sebenarnya secara fisik ketiganya masih utuh, tapi kertasnya saling melekat sehingga sulit dipisahkan. Hanya Jepang yang punya alatnya," tuturnya.
Ia menyebutkan, naskah kuno tertua berasal dari abad ke-16. Ia menyatakan, dibutuhkan proses panjang untuk sampai mengetahui dan mempelajari ilmu yang terkandung pada naskah-naskah kuno.
Usai preservasi atau penyelamatan fisik, barulah naskah kuno didigitalisasi atau dialihmediakan. Selanjutnya alih aksara serta alih bahasa atau penerjemahan, barulah dipublikasikan.
“Penggalian isi naskah dan implementasinya akan membuat kearifan local dan kejayaan bangsa Indonesia kembali terangkat,” tandasnya. (CNC)
