Select Menu
Select Menu

Favourite

KABAR CIREBON

INDRAMAYU

MAJALENGKA

CIREBON

KUNINGAN

JABAR

WONG CILIK

Seni Budaya

Kuliner

» » Petani Penggarap di Cirebon Memanfaatkan Lahan Irigasi


Unknown 19.30 0


CIREBON - Saat merayakan Idulfitri, banyak tradisi yang biasa dilakukan masyarakat. Meskipun tak diwajibkan, pakaian baru dan beragam kuliner khas menjadi pelengkap tradisi yang akan selalu diupayakan untuk ada saat keluar15ga besar, kerabat, dan tetangga berkumpul dan bersilaturahmi. Hal lain yang juga keberadaannya dinilai sangat penting adalah rangkaian bunga dengan keharuman semerbak yang menghiasi ruang tamu dalam suasana suci.

Setiap daerah memiliki kekhasan sendiri soal bunga lebaran. Di kawasan Cirebon, Bunga Selasih merupakan merupakan komoditas khas yang biasanya tak boleh absen di dalam rangkaian bunga di setiap ruang tamu. Meskipun mekarnya tak semerakah bunga lain, bunga Selasih memang memiliki keharuman khas yang tak dimiliki bunga lain.

Tradisi tersebut tentunya tak ingin dilewatkan oleh Ustadi (50). Petani penggarap yang kini kesulitan mendapatkan lahan untuk menanam padi itu cukup pintar membaca potensi pasar bunga Selasih menjelang lebaran. “Saya memanfaatkan lahan di sekitar saluran irigasi saja sudah cukup. Perawatannya juga sangat mudah,” katanya saat ditemui Minggu (6/7/2014).

Ustadi mengaku hanya butuh modal Rp 50.000 untuk menanam puluhan bibit bunga selaish di beberapa puluh meter persegi lahan pinggiran irigasi Desa Cempaka, Kecamatan Talun. Namun setelah berbunga, ia memperkirakan bisa meraup pendapatan sampai Rp 500.000.

Menuru Ustadi, dirinya menanam bunga selasih sejak dua bulan sebelum Ramadan. Dengan umur panen tiga bulan, bunga tersebut sudah bisa dipanen beberapa hari sebelum lebaran. Selain rutin menyiraminya dengan air dari saluran irigasi, Ustadi hanya butuh kotoran kambing dari kandang miliknya untuk memupuk tanama bunga selasih itu.

Sementara itu petani lain, Jumadi (45) mengaku sengaja menyewa sepetak tanah seluas untuk bercocok tanam bunga selasih. Hal itu ia lakukan demi potensi pasar yang tak mau ia lewatkan saat lebaran nanti. “Saya sewa lahan seluas seratus meter persegi seharga Rp 500.000. Ditambah untuk bibit Rp 100.000 dan pupuk kandang Rp 50.000 karena saya tak punya ternak kambing,“ ucapnya.

Dari modal tersebut, Jumadi memperkirakan bisa mendapatkan bunga selasih senilai Rp 1,5-2 juta jika semua laku terjual. Pendapatan yang cukup menggiurkan bagi petani penggarap yang saat ini juga tak lagi bisa menanam padi.

Jumadi mengatakan, sejak awal 2014 dirinya tak bisa lagi menanam padi karena lahan di Kecamatan Kedawung yang biasa ia sewa, telah dijual oleh pemiliknya ke salah satu pengembang perumahan. “Saya sudah mencoba mencari lahan lain, tetapi harga sewanya sangat mahal. Satu hektare saja sekarang bisa mencapai Rp 4-5 juta,” katanya.

Selepas menanam bunga selasih, Jumadi mengaku bingung apalagi yang harus ditanam di lahan yang hanya sepetak itu. Ia jelas tak mampu menyewa lahan yang lebih besar untuk menanam padi. Belum lagi harga pupuk yang saat ini meroket diselingi kelangkaan. Ia hanya bisa pasrah dan berharap pemerintah bisa lebih memperhatikan nasib petani penggaran yang tak memiliki lahan seperti dirinya. Bagaimana pun, orang-orang seperti Jumadi memiliki andil untuk menyuplai kebutuhan beras masyarakat. (PRLM)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama