Minggu Pertama Bulan Ramadhan, Harga Sembako di Cirebon Meroket
Unknown
01.49
0
Meskipun Ramadhan masih dua minggu lagi, sejumlah bahan kebutuhan mulai alami kenaikan. Kenaikan bervariasi, antara 15 persen hingga 100 persen dari harga normal.
Seperti diungkapkan beberapa pedagang di Pasar Induk Jagasatru, kenaikan harga mulai terasa sejak seminggu yang lalu. Diduga kenaikan sayuran dan sembako lantaran sulitnya mencari bahan baku, karena permintaan pasar yang begitu tinggi jelang Ramadhan.
Kepada KC, salah satu pedagang jengkol, Fatimah (32 tahun), mengungkapkan, sejak tiga hari yang lalu dirinya nyaris tidak menjual jengkol sama sekali. Hal ini dikarenakan tingginya harga jengkol yang mencapai Rp 60 ribu/kilo dari bandar membuat pihaknya tidak ingin menjual jengkol.
“Kalau dari bandar saya beli segitu, berapa harga yang harus saya jual? Empat hari terakhir saya masih jual Rp 60 ribu. Tapi karena gak ada yang beli dengan harga segitu, jadi gak saya jual,” kata Fatimah, Rabu (11/6/2014).
Fatimah mengungkapkan, idealnya dalam harga normal, harga jengkol berada pada kisaran Rp 25 ribu hingga mencapai Rp 30 ribu rupiah. Namun lantaran sulitnya mencari jengkol, harganya melonjak.
Tak jauh beda, harga bawang merah pun alami kenaikan. Bila biasanya harga bawang dipatok dengan harga Rp 9 ribu untuk ukuran sedang, dan Rp 10 ribu untuk ukuran super, pada seminggu terakhir mencapai Rp 15 ribu untuk ukuran sedang, dan Rp 17 ribu untuk ukuran super.
Beberapa penjual bawang merah mengaku, naiknya harga lantaran hingga saat ini stok bawang merah di Losari dan Brebes telah sedikit. Sebab para petani tengah asyik menanam cabe.
“Biasanya kalau normal, saya biasa beli bawang sampai 1 ton. Tapi untuk efektivitas biaya, saya hanya jualan 6 kuintal sejak seminggu ini,” jelas salah satu pedagang bawang, Kholis (28 tahun).
Sedangkan untuk bawang putih, kenaikannya tidak setinggi bawang merah. Hal ini terbukti, untuk satu kilo bawang putih, harganya Rp 14 ribu. Saat normal, harganya Rp 10 ribu per kilo.
Di Pasar Tradisional Sumber, bawang merah ukuran besar saat ini sudah berada di kisaran Rp 20 ribu per kilo dari harga sebelumnya Rp 15 ribu per kilo. Untuk ukuran sedang berada di kisaran Rp 16 ribu per kilo dari harga sebelumnya Rp12 ribu per kilo.
“Pasokan menipis katanya Mas. Pesenan juga banyak diminta dari Jakarta dan Sumatera. Jadi kita yang kena imbasnya kali ya,” ungkap salah satu pedagang bahan pokok di Pasar Sumber Kabupaten Cirebon, Akhyar, Rabu (11/6/2014).
Kenaikan juga terjadi pada bawang merah ukuran kecil, yakni Rp 12-14 ribu per kilo dari harga sebelumnya hanya Rp 10 ribu per kilo.
Menurutnya, kenaikan harga juga karena tradisi masyarakat memasuki bulan Ramadhan.
Pedagang Pasar Pesalaran Kabupaten Cirebon, Eli, mengatakan, sudah lima hari terakhir ini harga bawang merah mengalami kenaikan drastis. Pedagang juga menjual bawang merah dengan pasokan yang terbatas.
Bawang putih
Meskipun para pedagang bawang mengaku kenaikan bawang disebabkan lahan pertanian bawang digunakan untuk cabe, nyatanya harga cabe merah pun alami kenaikan, meskipun tidak signifikan. Tercatat untuk jenis lokal, harga cabe yang biasanya dijual Rp 6 ribu per kilo, sekarang mencapai Rp 7 ribu per kilo.
Sedangkan untuk jenis PM, yang biasanya dijual dengan harga Rp 7 ribu, sekarang dijual Rp 8 ribu per kilo.
“Sedangkan untuk jenis rawit masih normal. Kata petani sih, naiknya cabe merah karena harga pupuk mulai naik,” jelas Nurfrida (38 tahun), salah satu pedagang cabe.
Selain cabe dan bawang, kenaikan juga terjadi pada beberapa bahan baku lainnya, seperti kacang tanah, meskipun masih di bawah 20 persen. Namun para pedagang kacang tanah mengaku, kenaikan menyebabkan sepinya pembeli.
“Biasanya harga kacang tanah dipatok Rp 14 ribu per kilo, tapi sekarang menjadi Rp 16 ribu per kilo,” kata Asep (37 tahun), pemilik salah satu toko sembako di Pasar Jagasatru.
Masih menurut Asep, selain kacang tanah, harga beras pun alami kenaikan, meskipun belum melonjak tajam. Diakuinya, meskipun beras alami kenaikan, namun tak mengurangi minat para pembeli untuk membeli.
“Untuk jenis beras panjang, sekarang mencapai Rp 8,5 per kilo. Kalau normal hanya Rp 7,5 per kilo. Sedangkan untuk bulet, harga beras tetap naik sebesar Rp 8 ribu dibanding harga normal Rp 7,7 ribu per kilo,” jelas Asep.
Sementara itu, kenaikan harga juga masih terjadi pada daging ayam dan telur. Salah satu pedagang ayam, Herlina (32 tahun), mengungkapkan, dibanding beberapa pasar lainnya di Wilayah Cirebon, dirinya termasuk yang paling murah menjual ayam. Untuk sekilo ayam di Pasar Kanoman, harganya mencapai Rp 34 ribu. Sedangkan dirinya hanya mematok Rp 30 ribu per kilo.
“Akibat naik harga itu, saya hanya menyetok 400 kilo setiap hari, berbeda dengan harga normal yang saya stok mencapai 500 kilo setiap harinya,” jelas Herlina.
Sedangkan untuk telur, Herlina mengaku, untuk satu kilogram telor dirinya harus menjual Rp 18,5 ribu per kilonya. Harga ini alami kenaikan dibanding dengan harga normal yang mencapai Rp 14 ribu per kilonya.
“Para peternak sih mengaku, kenaikan daging dan telur karena harga pakan ayam yang terus naik jelang Ramadhan. Saya prediksi harga akan naik sampai Lebaran nanti,” pungkas Herlina.(C-21/C-23)
Pointer :
-Jengkol: hilang di pasaran, harga Rp 60 ribu, normal Rp 25 ribu sampai Rp 30 ribu.
-Bawang merah sedang: normal Rp 9 ribu, sekarang Rp 15 ribu
-Bawang merah super: normal Rp 10 ribu, sekarang Rp 17 ribu.
-Bawang putih: normal Rp 10 ribu, sekarang Rp 14 ribu.
-Cabe merah lokal: normal Rp 6 ribu, sekarang Rp 7 ribu
-Cabe merah PM: normal Rp 7 ribu, sekarang Rp 8 ribu.
-Kacang tanah: normal Rp 14 ribu, sekarang Rp 16 ribu.
-Beras panjang: normal Rp 7,5 ribu, sekarang 8,5 ribu.
-Beras bulet: normal Rp 7,7 ribu, sekarang Rp 8 ribu.
-Daging ayam: normal Rp 24 ribu, sekarang Rp 30 ribu.
-Telur ayam: normal Rp 14 ribu, sekarang Rp 18,5 ribu.
(kabar cirebon)
